Halo, salam hangat dari penulis yang sebentar lagi akan menumpahkan opininya haha..
jika teman-teman mengikuti akun sosial media saya, pasti tidak asing dengan judul diatas.
yep...
Topik ini sudah sempat saya angkat di instagram dan facebook, kemudian sekarang dengan senang hati kembali saya tulis lagi di blog dengan versi yang lebih panjang, tentu saja. Semoga pembaca yang kurang puas dengan tulisan saya sebelumnya, kali ini bisa terobati, sangat didukung jika ada diskusi dikolom komentar, oke. :D
sudah siap membaca?
here we go....
"Perempuan itu ngga perlu pandai apa-apa, cukup pandai di sumur,dapur dan kasur saja"
Sejujurnya kalimat ini sama sekali tidak asing ditelinga saya, kalimat ini sudah kerap saya dengar sejak masuk pesantren beberapa tahun lalu, kalimat yang paling biasa saya dengar akan tetapi tidak pernah diterima hati nurani saya.
Membahas kalimat diatas, tentu tidak akan lepas dari menyinggung patriarki, yang secara sederhana dipahami sebabagi sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama, dan memiliki peran yang mendominasi baik dalam politik atau keluarga. Bagi mereka yang menganut sistem ini, tentu perempuan yang memiliki pendidikan,pintar, dan berkarakter kuat sangat tidak diperlukan, untuk apa? toh ujungnya didapur, begitu kan? Penganut patriarki percaya bahwa perempuan seharusnya tinggal saja dirumah, ngurus rumah, dan tidak perlu melakukan hal-hal superior apapun, karena itu tempatnya laki-laki, itulah kenapa kalimat "Perempuan itu ngga perlu pandai apa-apa, cukup pandai di sumur,dapur dan kasur saja" bisa lahir di dunia ini.
Tentu saja, sistem ini tidak ada masalaah jika ditempatkan pada penganutnya saja, baik laki-laki maupun perempuan.
Masalahnya adalah, sistem ini dipukul rata untuk semua orang bahkanpada mereka yang tidak ingin diatur hidupnya oleh sistem sosial ini. Akibatnya, mereka yang menganut patriarki secara serampangan mengatakan hal-hal yang secara tidak langsung merendahkan kaum perempuan, baik secara sengaja atau tidak, langsung atau tidak langsung, kalimat diatas adalah salah satu contohnya. Kalimat diatas tentu tidak salah jika diucapkan pada sesama penganut patriarki, akan tetapi beda lagi ceritanya jika di lontarkan disebuah media sosial, karena sekali lagi, tidak semua laki-laki dan perempuan adalah penganut patriarki.
Sudah ya soal patriarkinya, kita lanjut bahas tentang kalimatnya.
Menurut pandangan pribadi saya, sebagai perempuan tentu saja tidak cukup pandai disumur, dapur dan kasur saja. Secara umum kita memiliki 4 fase kehidupan yakni, anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia, pertanyaannya apakah anda yakin sebagai perempuan akan mengabiskan 4 fase kehidupan anda hanya untuk mengasah kemampuan disumur, dapur dan kasur saja dan tidak mengasah kemampuan yang lain? (pertanyaan ini juga saya tujukan kepada orangtua yang memiliki anak perempuan)
Bagaimana jika anda,atau anak perempuan anda ternyata berbakat di bidang seni? Bagaimana jika ternyata anda atau anak anda memiliki IQ superior bahkan jenius? Bagaimana jika anda atau anak anda memiliki bakat wirausaha? Sungguh ironi jika anda masih setuju dengan kalimat judul diatas, karena anda atau anak anda bisa saja menjadi lebih dari sekedar pandai didapur, disumur dan dikasur.
Kepandaian disumur, dapur dan kasur adalah kemampuan alami yang pasti dimiliki oleh semua orang normal di dunia, bahkan tanpa harus dipaksakan pun, sudah pasti dimiliki oleh setiap orang, justru untuk apa usia sepanjang ini jika hanya digunakan untuk mengasah kemampuan alami yang sudah pasti akan mucul tersebut?. Manusia pada dasarnya memiliki insting untuk bertahan hidup dan mempertahankan eksistensi rasnya, hal ini sudah kita miliki secara alami, sungguh sia-sia jika seumur hidup hanya untuk makan, bersih-bersih, dan seks. Ada hal-hal yang jauh lebih membutuhkan ketekunan dan penting bagi kita sebagai manusia, budi pekerti, ilmu yang banyak, wawasan yang luas, kepribadian tangguh, kecerdasan emosi, kebijakan, semua ini sangat jauh lebih membutuhkan ketekunan dan tentu saja lebih penting daripada sekedar pandai didapur, kasur dan sumur.
Seperti yang sudah saya katakan dalam postingan di facebook dan instagram, bahwa memasak, mencuci, dan seks, tiga hal tersebut dapat dipelajari dalam waktu yang relatif singkat. Akan tetapi menjadi perempuan yang berprinsip, mandiri, cerdas, bijak, dan pandai mengontrol emosi membutuhkan proses yang sangat lama, bahkan mungkin seumur hidup. Kita hanya hidup sekali, sungguhkah cukup anya dengan pandai disumur, dapur, dan kasur “saja” ??? are you sure?
Wanita cerdas dan baik, tidak akan membiarkan prianya kelaparan dirumah, tidak akan menghabiskan harta prianya untuk hal-hal yang merugikan.
Wanita yang memiliki wawasan luas dan bijak, tidak akan membiarkan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bejat, dan mampu memperlakukan prianya sesuai dengan tempatnya.
Apakah sudah pasti bisa anda temukan hal tersebut pada wanita-wanita yang cukup pandai disumur,dapur, dan kasur saja?
Terakhir, pekerjaan disumur,dapur, dan kasur tidak seharusnya menjadi kemampuan wajib perempuan saja, melainkan seluruh umat manusia termasuk laki-laki. Meskipun ketika didalam keluarga tentu saja akan ada pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, akan tetapi kita tidak pernah tau kapan kesehatan seseorang dalam kondisi baik atau buruk, jika perempuan sakit dan tidak sanggup melakukan pekerjaannya, maka disinilah kemampuan didapur dan sumur si pria dapat digunakan.
Sekian opini saya, terimakasih :)

Komentar
Posting Komentar