Langsung ke konten utama

Orangtua Yang Membully Anak-anaknya



ShareOp#1

Bullying adalah suatu tindakan berupa ancaman, intimidasi bahkan kekerasan kepada orang lain. Umumnya, tindakan bullying ini terjadi di sekolah, tapi tahukah anda bahwa ternyata tanpa sadar didalam keluarga pun seorang anak bisa menjadi korban bullying?

Biasanya orangtua tidak sadar telah melakukan tindakan bullying pada anak, nah berikut adalah jenis-jenis bullying yang tanpa sadar dilakukan orangtua kepada anaknya :

1. mengontrol anak untuk mengikuti kemauannya

Banyak orangtua yang berpendapat bahwa " dia anak saya,dan saya yang paling tau apa yang terbaik untuk dia" hal ini tentu saja bisa menekan anak secara psikologis apalagi jika pilihan orangtua sangat jauh dari keinginan si anak, bisa dibayangkan jika seumur hidup anak anda tidak bahagia karena tidak bisa menjalani kehidupan yang diinginkan? perilaku ini juga akan berdampak buruk pada proses perkembangan anak. anak-anak yang sering diperlakukan seperti ini akan sulit untuk hidup mandiri dan mengambil keputusan, tidak bisa menyelesaikan masalah dengan baik, bergantung pada orangtuanya, dan tentu saja lebih rentan terhadap stress. sebagai orangtua, tentu tidak ingin anak-anak anda mengalami hal seperti ini, bukan?

2. Tidak mengapresiasi usaha anak
Setiap manusia harus belajar mengapresiasi usaha-usaha orang lain, hal ini juga berlaku pada orangtua kepada anaknya. Sering kali orangtua menetapkan standar yang terlalu tinggi kepada anak untuk mendapatkan apresasi dari orangtua. cotohnya, harus peringkat 1 dikelas, harus juara olimpiade,juara lomba, dan sebagainya. tapi pernahkah orangtua mengapresiasi anak-anak mereka ketika seorang anak melakukan hal-hal kecil seperti mau bersih-bersih, bersikap sopan pada orang lain, atau ketika anak bersikap jujur? perilaku mengapresiasi ini memiliki fungsi yang baik sebagai penguat sebuah perilaku, ketika seorang anak melakukan hal positif, kemudian orangtua memuji dan mengapresiasi perilaku si anak, maka perilaku positif tersebut akan terulang dan bertahan lebih lama, daripada ketika tidak diapresiasi sama sekali
3. Membanding-bandingkan anak dengan orang lain.
Membandingkan anak adalah kasus paling umum yang terjadi antara orangtua dan anak, saya rasa sebagian anak pernah dibanding-bandingkan dengan anak lain yang dianggap lebih baik. Mungkin orangtua berniat agar anaknya termotivasi, namun benarkah demikian yang dirasakan si anak? apakah pada akhirnya termotivasi atau malah menjadi pribadi yang rendah diri? perilaku orangtua yang kerap membanding-bandingkan anak ini rupanya lebih banyak menimbulkan dampak negatif daripada positif, anak akan lebih mudah stres, tidak mengenali dirinya sendiri, tidak mencintai diri sendiri, dan tumbuh menjadi pribadi yang minder. Keluarga adalah sumber kekuatan bagi seorang anak, jika keluarga tidak menunjukkan cinta, sikap menghargai pada anak, dan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, kemudian siapa yang akan melakukannya?

4. Memarahi anak menggunakan kata-kata cacian.
Kata-kata cacian yang di maksud adalah seperti "goblok!", "bodoh!", "dasar anak nakal!" dan sebagainya. Sebagai seorang anak yang sedang dalam masa perkembangan, sangat wajar jika melakukan kesalahan, dalam hal ini orangtua berperan penting sebagai guide atau pemandu anak-anak dalam kehidupan mereka, jika seorang anak melakukan kesalahan, wajib bagi orangtua untuk menunjukkan apa yang salah dan bagaimana yang benar, tentu saja marah itu sangat boleh jika memang diperlukan, akan tetapi sebagai orangtua juga harus pandai menjaga tutur bahasa yang digunakan untuk memarahi si anak. jangan sampai kedepannya justru anak menjadi pribadi yang penakut atau bahkan menjadi agresif dan tidak bisa mengontrol emosinya karena mengikuti perilaku orangtuanya.
Menikah memang mudah, akan tetapi menjadi orangtua bukanlah perkara mudah, tanggung jawab orangtua bukan hanya makan dan tidur anak-anaknya, namun juga pada pendidikan dan pembentukan karakter anak-anak tersebut. Oleh karena itu, pastikan kita bisa mengemban tanggung jawab sebagai orangtua sebelum memiliki anak.
Untuk para orangtua, semangat terus untuk menciptakan generasi yang cerdas dan berbudi luhur. Dan untuk anak-anak yang kini sudah tumbuh dewasa,jangan lupa untuk berterimakasih pada orangtua yang sudah menjaga kita dan menghantarkan kita pada masa-masa paling cerah dalam hidup kita.

Sekian, Terimakasih dan Semoga bermanfaat :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NEO-HUMANISM PART 3 (Last)

Halo… Setelah beberapa waktu akhirnya saya punya niatan lagi untuk melanjutkan pembahasan tentang neo humanism haha.. Senang sekali ada semangat untuk membahas kelanjutan dari neo-humanism ini, saya harap teman-teman yang membaca blog ini mendapat energi positif dari apa yang saya tulis. Terakhir kali saya membahas tentang sentimen, bukan? Melanjutkan tulisan sebelumnya, saya ingin membahas tentang batasan-batasan didalam sentimen dan konflik yang ditimbulkan. LIMITATION AND CONFLICT Pada tulisan sebelumnya saya sudah membahas tentang bagaimana sentimen itu muncul dan meluas, mulai dari sentimen pada diri sendiri, kemudian meluas pada keluarga, meluas lagi pada lingkungan tempat tinggal, semakin meluas dan meluas sampai akhirnya sentimen tersebut meliputi setiap manusia, yang sering dikenal dengan humanisme. Berikut adalah gambaran proses perluasan sentimen Dalam gambar diatas dijelasakan bahwa sentimen seorang manusia bisa sampai pada tingkat...