Topik ini saya angkat karena pernah mendengar celetukan seseorang di sosial media yang mengatakan bahwa "agama hanya mengkotak-kotakkan, untuk apa beragama tapi tidak memiliki sisi kemanusiaan, atau lebih baik tidak beragama tapi tetap memiliki sisi kemanusiaan"
Baik...
Yang saya ingin bicarakan disini adalah ketidaksetujuan saya dengan opini tersebut karena sesungguhnya agama dan kemanusiaan itu sendiri adalah satu kesatuan, terlepas dari beberapa pengikutnya yang berperilaku tidak manusiawi.
Kok Bisa Agama dan Kemanusiaan adalah satu kesatuan? Alasannya apa?
Pasti banyak juga dari teman-teman yang memiliki opini berbeda tentang hal ini, akan tetapi untuk kali ini saya akan menjelaskan pemikiran saya tentang bagaimana agama dan kemanusiaan adalah satu kesatuan, dua hal berbeda namun tidak dapat dipisahkan.
Karena saya pemeluk agama islam, saya akan menuliskan ini dari sudut pandang seorang muslimah, berikut adalah penjabaran yang dapat saya berikan.
Semasa kecil kita juga pasti sering diingatkan untuk tidak mencaci orang lain, bersikap sopan kepada yang lebih tua, tidak boleh melakukan perbuatan buruk karena itu dosa.
Darimana datangnya konsep dosa? yep, dari agama. Agama memberlakukan sistem reinforcement (konsekuensi), ketika seseorang berperilaku buruk maka konsekuensinya dosa, dan ketika seseorang berperilaku baik, kosekuensinya pahala, sejak kecil entah dari orangtua, guru agama di sekolah, atau guru ngaji, kita selalu diajarkan untuk berbuat baik pada sesama karena itu mendatangkan pahala.
Sampai sini, dapat saya simpulkan bahwa ajaran pertama yang menuntut agar manusia memiliki sisi kemanusiaan adalah ajaran dari agama itu sendiri. Lalu, apakah masih masuk akal jika karena agama manusia jadi tidak menghargai orang lain, tidak memiliki sisi kemanusiaan, merasa paling benar dan sebagainya? ataukah karena manusia tersebut telah gagal mempelajari ajaran agamanya sendiri? teman-teman berhak memiliki jawaban masing-masing.
oke lanjut......
Teman-teman yang muslim pasti sangat familiar dengan zaman Jahiliyah, zaman sebelum Allah menurunkan agama islam, zaman dimana perilaku manusia tidak berbeda dengan binatang, anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup, wanita-wanita diperlakukan tidak manusiawi, pembunuhan terjadi dimana-mana, dan serentetan keberingasan manusia pada saat itu. Sampailah pada datangnya Nabi Muhammad SAW. yang mengajarkan tentang akhlak pada pengikutnya, mengajarkan budi pekerti yag sumbernya dari Firman Allah, yang sekarang telah menjadi kitab suci kita yakni, Al-Qur'an, sampai-sampai Rosulullah sendiri digambarkan sebagai manusia yang mulia dan baik budinya di seluruh buku-buku sejarah, begitu dipuji karena saking banyaknya manusia bejat pada saat itu dan sedikit sekali orang yang baik budinya.
Hingga pada akhirnya, ajaran yang dibawa oleh Rosulullah ini membawa perubahan pada pengikutnya, menumbuhkan sisi kemanusiaan pada setiap orang yang mengikuti ajaran beliau. kalau teman-teman perna baca sejarah islam, pasti sangat paham dimana letak perubaan sikap dan perilaku manusia pada saat itu.
sampai sini, dapat saya simpulkan bahwa datangnya ajaran kemanusiaan sumbernya dari agama, sehingga apakah masih relevan opini yang menyatakan bahwa agamalah yang menyebabkan perpecahan? sekali lagi, teman-teman berhak memiliki pilihan jawaban sendiri.
Sebelum kita berkoar-koar tentang humanity, sebelum humanity menjadi topik panas yang sekarang sering dibicarakan, didalam ajaran agama, praktek tentang kemanusiaan telah lebih dulu ratusan tahun dibahas, sudah lebih dulu ratusan tahun diajarkan untuk mempraktekkan perilaku kemanusiaan itu sendiri, lalu apakah masih masuk akal memisahkan antara kemanusiaan dan agama?
Menurut saya pribadi, agama tidak pernah menjadi sumber perpecahan, apa yang sebenarnya menyebabkan seseorang bertindak buruk bukan karena perintah agama, tapi karena egonya sendiri, nafsunya sendiri, akan tetapi tidak ingin dianggap buruk, dan tetap ingin dianggap mulia sehingga menggunakan agama sebagai tunggangan.
Gembel kalo naiknya lamborghini juga akan dianggap orang kaya kan?
Kenyataannya memang sekarang manusia banyak yang kalah di perannya sebagai agamawan, atau kalah di perannya sebagai manusia, sehingga punya sisi kemanusiaan tapi tidak beragama atau beragama tapi tidak mencerminkan sisi kemanusiannya. Padahal bisa saja menjadi agamawan yang 100% dan memiliki sisi kemanusiaan yang 100%, bukan 50-50 apalagi timpang.
Sebagai penutup, saya akan mencantumkan semboyan saya tentang humanity-religion
"Jadilah manusia yang tidak kehilangan sisi religiusnya, dan jadilah agamawan yang tidak kehilangan sisi kemanusiaannya"
Sekian dari saya, terimakasih dan semoga bermanfaat :)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Label
Opinion
Label:
Opinion
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar