Setelah beberapa waktu akhirnya saya punya niatan lagi untuk melanjutkan pembahasan tentang neo humanism haha..
Senang sekali ada semangat untuk membahas kelanjutan dari neo-humanism ini, saya harap teman-teman yang membaca blog ini mendapat energi positif dari apa yang saya tulis.
Terakhir kali saya membahas tentang sentimen, bukan? Melanjutkan tulisan sebelumnya, saya ingin membahas tentang batasan-batasan didalam sentimen dan konflik yang ditimbulkan.
LIMITATION AND CONFLICT
Pada tulisan sebelumnya saya sudah membahas tentang bagaimana sentimen itu muncul dan meluas, mulai dari sentimen pada diri sendiri, kemudian meluas pada keluarga, meluas lagi pada lingkungan tempat tinggal, semakin meluas dan meluas sampai akhirnya sentimen tersebut meliputi setiap manusia, yang sering dikenal dengan humanisme. Berikut adalah gambaran proses perluasan sentimen
Dalam gambar diatas dijelasakan bahwa sentimen seorang manusia bisa sampai pada tingkat humanism, akan tetapi ada juga orang-orang yang sentimennya hanya terbatas pada level socio-sentiment saja, atau hanya terbatas hanya sampai pada level geo-sentiment saja. Nah batasan-batasan ini akhirnya melahirkan konflik-konflik yang merugikan, seperti :
1. Perang dan pertumpahan darah
Teman-teman pasti sudah mendengar sejarah penjajahan Belanda di Indonesia bukan? Penjajahan yang dilakukan demi keuntungan bangsa, keluarga, dan daerah sendiri merupakan salah satu konflik yang timbul akibat sentimen yang hanya terbatas pada teritori, ras, dan bangsa sendiri sehingga mengabaikan kesejahteraan dan kerugian dari bangsa lain yang dijajah. Fanatisme, rasa cinta yang membabi buta pada daerah dan bangsa sendiri membuat penjajah itu kehilagan rasa peduli kepada sesama manusia dan hanya mengutamakan golongan mereka saja. Perang dan pertikaian yang disebabkan oleh limitasi ini masih terus berlanjut hingga sekarang, tidak perlu saya sebutkan, teman-teman pasti sudah tau, bukan?
2. Menderita karena berbagai jenis hal-hal kompleks seperti bahasa, budaya, ras, jenis kelamin, dan ekonomi.
Pernahkah teman-teman menyaksikan atau bahkan merasakan bahwa orang-orang yang pandai berbahasa asing selalu mendapat perlakuan spesial? Atau dalam kasus lain, ada ras-ras tertentu yang dianggap rendah dibandingan dengan ras lain? Dalam budaya indonesia sentimen antara laki-laki dan perempuan juga sangat kental, pada masa-masa tertentu laki-laki hanya menghormati sesama laki-laki, sehingga para perempuan bergerak untuk membela sesama perempuan. Hal-hal tersebut adalah penderitaan yang terjadi karena batasan-batasan yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Pemikiran-pemikiran seperti
“laki-laki lahir sebagai pemimpin, dan pemimpin harus dihormati, jadi aku hanya akan menghormati laki-laki saja”
Atau
“suku/bangsaku adalah yang terbaik, untuk apa menghormati suku/bangsa lain yang levelnya lebih rendah”
Tahukan teman-teman berapa banyak orang yang terluka dan menderita yang disebabkan oleh pikiran-pikiran sepert ini? Berapa banyak kerusakan yang ditimbulkan karena pemikiran seperti ini akhirnya menjadi limitasi dan membuat orang yang memiliki pemikiran tersebut berbuat tidak baik pada manusia lain. Pikiran memang sepele, namun pada akhirnya pikiran tersebutlah yang menjadi tuan atas perilaku seseorang.
Penderitaan karena dianggap remeh, didiskriminasi, atau diperlakukan tidak adil seperti diatas sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap orang menerapkan neo-humanism, cinta universal kepada semesta dan isinya. Hal-hal diatas bisa saja dicegah atau dihentikan jika setiap orang tidak bergerak berdesarkan sentimen mereka semata.
3. Semua “groupism” didasari oleh kepentingan pribadi
Yang disebut dengan “groupism” disini seperti humanism, feminism, dan ism-ism yang lain sebenarnya didasari oleh kepentingan pribadi. Pada neo-humanism, dijelaskan bahwa sebenarnya semua ism didunia ini pada dasarnya berawal dari kepentingan pribadi, orang-orang bergerak karena merasa dirinya akan diuntungkan jika paham ism yang dia perjuangkan berhasil, oleh karena itu manusia sebaiknya tidak fanatik terhadap segala sesuatu atau paham yang dianutnya, termasuk jika teman-teman adalah yang mempelajari dan menyukai neo-humanism yang sekarang saya tulis . Dalam neo-humanism diingatkan untuk tidak fanatik dan mencintai secara membabi buta pada ism-ism yang teman-teman pegang, sebab pada dasarnya hal-hal tersebut tidak terlepas dari kepentingan pribadi. Jika teman-teman memegang teguh suatu ism, peganglah tanpa harus menyakiti dan merendahkan orang lain.
4. Dogma dan Bias
Teman-teman pasti sering melihat iklan-iklan sabun, kosmetik, atau produk skincare yang menggunakan mbak-mbak dengan kulit putih, mulus, hidung mancung, tinggi, dan langsing, sehingga menumbuhkan sebuah pemahaman bahwa cantik itu hanya disandang oleh perempuan yang memiliki kriteria seperti mbak-mbak bintang iklan tersebut, yang tidak memenuhi kriteria tersebut artinya tidak cantik.
Atau publik figur yang kerap memamerkan harta kekayaannya, barang mewah, jalan-jalan ke luar negri, sehingga timbul pemahaman bahwa kaya itu adalah ketika seseorang punya barang mewah, mahal, bisa ke jalan-jalan ke luar negri, jika tidak memiliki hal tersebut, maka tidak dapat disebut kaya.
Hampir seumur hidup, saya, anda, dan semua manusia disuapi doktrin seperti ini, sehingga mudah sekali bagi seseorang menilai orang lain, hanya peduli pada yang terlihat cantik atau tampan saja, hanya berbuat baik pada yang terlihat kaya saja.
Banyak sekali orang-orang disekeliling kita yang membatasi kepedulian dan kasih sayangnya karena dogma-dogma yang telah disuntikkan sejak kecil. Dalam skala yang lebih luas, banyak orang yang peduli dengan orang lain tapi dengan syarat agamanya harus sama, atau sukunya harus sama, atau yang memiliki kesukaan yang sama, jika tidak memenuhi syarat maka tidak dipedulikan atau bahkan dikucilkan.
Banyak sekali orang-orang disekeliling kita yang membatasi kepedulian dan kasih sayangnya karena dogma-dogma yang telah disuntikkan sejak kecil. Dalam skala yang lebih luas, banyak orang yang peduli dengan orang lain tapi dengan syarat agamanya harus sama, atau sukunya harus sama, atau yang memiliki kesukaan yang sama, jika tidak memenuhi syarat maka tidak dipedulikan atau bahkan dikucilkan.
Kenapa orang-orang berbuat demikian?
Hal tersebut tidak terlepas dari sentimen, dogma bahwa kelompoknya adalah yang paling benar, paling indah, paling baik, sehingga ketika melihat kelompok lain timbullah bias,lalu berprasangka, padahal bisa jadi prasangka tersebut tidak benar.
Setiap manusia memiliki potensi pada pikirannya, yang awalnya anda lahir hanya mengandalkan insting, kemudian anda bisa memahami apa yang anda sukai, cintai, yang akrab dengan anda sehingga jadilah sentimen, lalu anda bisa berkembang menjadi lebih rasional, yang tadinya hanya membela apa yang anda sukai dengan membabi buta, sekarang anda bisa menilai apa yang benar dan salah, apa yang seharusnya atau tidak seharusnya dilakukan, dan anda masih bisa berkembang lagi yakni memiliki pemikiran untuk melayani orang lain, berbuat baik tanpa pandang bulu, dan mencintai tanpa syarat. Setiap manusia memiliki potensi ini, lalu apakah setiap orang bisa memaksimalkan potensinya? Tentu saja, bisa. Dengan cara memperluas wawasan dan pikiran, setiap orang bisa memaksimalkan potensi pikiran mereka.
Saya dan teman-teman bisa memulai dengan terus belajar, menambah wawasan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa kita semua adalah bagian dari alam semesta. Kita tidak tinggal di planet yang berbeda, kita semua tinggal bersama, bernafas bersama, hidup bersama di sebuah rumah bernama Bumi. Bukan hanya kita, tapi ada makhluk hidup lain yang tinggal bersama kita, ada tumbuhan dan hutan yang membantu kita mendapat kehidupan yang layak, ada binatang yang mewarnai keseharian kita, dan semua hidup didalam satu rumah yang sama. Oleh karena itu sebagai saudara satu rumah sudah layaknya kita saling menjaga, saling menyayangi, dan saling membantu.
Rumah kita, bumi, akan segera hancur jika penghuninya saling membunuh, saling menghancurkan didalamnya. Hal inilah yang ingin disampaikan oleh Neo-Humanism, untuk menjalani hidup yang harmonis, menjaga, melangkah maju bersama, dan saling mendukung sehingga kita bisa merasakan adanya cinta disekeliling kita.
Okee! Ini adalah bagian terakhir dari tulisan saya tentang Neo-Humanism, semoga apa yang saya tulis dapat membuka sebuah wawasan baru bagi teman-teman, kritik dan saran sangat diterima di blog ini, atau bisa langsung cus ke akun sosial media saya, feel free to write down anything for me ^_^.
Sampai bertemu di tulisan berikutnya dengan pembahasan baruuu..
Thankyou and Have a nice day!

Komentar
Posting Komentar