Langsung ke konten utama

Menjadi Ibu yang Hebat adalah Pilihan


                                      Ilustrasi Termanis Ini Bikin Kamu Ingin Memeluk Ibu Hari Ini
https://cdn.idntimes.com/content-images/post/20171122/11910201-1500769840248449-481563574-n-ea0d26876374add4255a49f097ad89c5.jpg


Siapakah Ibu itu?

Perempuan yang melahirkan anaknya..
Perempuan yang merawat anak-anaknya seumur hidupnya…
Perempuan yang tidak pernah lelah mencurahkan kasih sayang pada anak-anaknya…

Definisi kata Ibu selalu berbeda-beda bagi setiap orang, namun, yang jelas ibu juga manusia biasa, dan seperti manusia biasa pada umumnya,  tidak semua ibu bersikap bak malaikat, akan tetapi tidak sedikit juga sosok ibu dianggap melebihi kebaikan diseluruh dunia sebab kehebatannya dalam mengayomi anak-anaknya.

Kembali saya katakan, bahwa pada dasarnya ibu adalah manusia biasa, ada yang buruk dan ada pula yang baik, ada yang biasa saja dan ada pula yang hebat. Ketika manusia biasa bisa memilih menjadi pribadi yang baik atau buruk, hal ini berlaku pula bagi seorang ibu, menjadi ibu yang biasa saja atau menjadi ibu yang hebat adalah sebuah pilihan.

Ingin menjadi ibu yang seperti apakah kita?

Menjadi ibu yang menuntut macam-macam dari anaknya, atau menjadi ibu yang selalu mendorong anaknya menjadi orang hebat? Ini adalah pilihan.

Menjadi ibu yang kasar dan hobi mendidik dengan cara mencaci, atau menjadi ibu yang penuh kasih sayang yang lebih suka memberi contoh perilaku baik daripada memerintah anak berperilaku baik? Ini juga pilihan.

Saya teringat sebuah buku dari penulis asal korea bernama Kim Doo Eung  yang menceritakan kisah-kisah tokoh hebat dunia dimasalalu, yang mana ternyata dibalik masa kejayaan tokoh-tokoh tersebut terdapat kisa-kisah heroik perjuangan ibu yang sungguh tidak pernah lelah apalagi menyerah terhadap anak-anak mereka, salah satu kisah dari tokoh dunia terkenal bernama Albert Einstein tak luput diceritakan didalam bukunya.

Kita semua tau bahwa Einstein telah menjadi salah satu tokoh yang paling genius di dunia, beliau adalah salah satu toko paling berpengaruh pada abad ke-20 silam. Hal ini menjadi sesuatu yang mengejutkan mengingat Einstein adalah figur yang sering gagal dan dianggap bodoh disekolah. Lalu apa yang membuat Einstein si bocah yang selalu diremehkan dan dianggap bodoh ini tumbuh menjadi orang yang hebat?
Yep, sosok hebat Pauline sebagai ibu Einstein inilah yang berperan sangat besar sepanjang sejarah jatuh-bangunnya Einstein.
Doo Eung menuliskan dalam bukunya bagaimana Pauline dengan sabar menunggu anaknya yang memiliki keterlambatan dalam berbicara, bahkan setelah mampu berbicara pun kecepatan bicaranya sangat lambat, akan tetapi si ibu dengan sabar membantu Einstein kecil melafalkan kata demi kata sehingga hal ini yang diyakini menumbuhkan kepribadian ulet dan tekun dari Einstein ketika dewasa.

Ketika masa sekolah datang, mulai dari sekolah dasar sampai menengah, Einstein tidak mampu beradaptasi dengan baik , ditambah gurunya berpikir bahwa Einstein yang bicaranya lambat tidak akan bisa mengikuti pelajaran dan intelegensinya rendah, teman-teman juga mempermainkannya disekolah. Ketika pulang, ibunya selalu memberikan kata-kata penyemangat, tidak sekalipun ibunda Einstein ini memarahi anaknya karena dianggap bodo disekolah. Pauline selalu percaya bahwa anaknya memiliki sesuatu yang istimewa, dia selalu meyakini jika sesuatu yang istimewa didalam diri anaknya dikembangkan, maka anaknya akan menjadi sosok yang hebat.

“Kau akan menjadi orang yang jauh lebih hebat daripada orang lain”

Pauline selalu berkata demikian untuk menyemangati anaknya.

Tidak sampai disitu, ketika Pauline menyadari bahwa Einstein tidak memiliki minat disekolah, ia mengundang seorang mahasiswa kedokteran kerumah setiap Jum’at malam, kemudian berkat mahasiswa kedokteran inila minat Einstein terhadap ilmu pengetahuan bertamba besar. Einstein tumbuh menjadi seorang pecinta musik, alam, dan memiliki emosi yang stabil , semua berkat orangtua terutama sang ibu yang selalu menjaga kehangat dan keharmonisan didalam rumah. Orangtua yang membiasakan Einstein untuk berjalan-jalan ke alam bebas membuat Einstein tumbu sebagai sosok yang penuh empati.
Orangtua Einstein memang hanyalah orang biasa dan tidak memiliki keistimewaan apa-apa, akan tetapi mereka rela mengorbankan diri demi membesarkan Einstein dengan baik. Pauline dan suaminya lebih mementingkan hati daripada materi. Hal inilah yang kemudian membentuk Einstein sebagai pribadi yang mencintai perdamaian, kemanusiaan, serta orang yang dipercayai masyarakat. Pauline bahkan rela bekerja sebagai pelayan dan menolak tinggal bersama Einstein dengan alasan tidak ingin menghambat proses belajar anaknya, sehingga ia tinggal dirumah seorang saudara dan mulai bekerja sebagai pelayan. Pada akhirnya, ibu yang hebat ini akhirnya dapat tutup usia dengan tenang setelah mengetahui anaknya meraih kesuksesan sebagai ahli fisika yang hebat.

Pauline adalah salah satu contoh dari sekian banyak ibu yang memilih untuk menjadi ibu yang hebat. Disaat orang lain meremehkan dan tidak mempercayai kemampuan anaknya, sebenarnya Pauline bisa saja ikut menyerah bahkan bisa jadi ikut memandang rendah anaknya. Akan tetapi, Pauline memilih untuk terus mempercayai kemampuan Einstein, menyemangati dan tidak berputus asa. Pauline menyadari bahwa hati yang baik diatas segalanya, sehingga tidak hanya membuka jalan bagi Einstein untuk belajar, Pauline dan suaminya juga menerapkan sikap-sikap mulia sebagai manusia pada diri anaknya.

Pauline bisa saja menyerah pada Einstein saat pertama kali mengetahui anaknya lahir dengan keterlambatan bicara, tapi ia memilih untuk tidak menyerah. Sebagai ibu, ada banyak sekali kesempatan untuk meragukan anaknya, ada banyak sekali momen yang bisa saja membuat Pauline kecewa dan menunjukkan amarah atas ketidakpuasannya terhadap Einstein. Namun, dengan hati yang kokoh sang ibu memilih untuk terus mempercayai kemampuan dan potensi anaknya, dan dengan hati yang lapang, ia terus bersabar mendukung anaknya sampai datanglah hari dimana akhirnya kesabaran dan kelembutan hatinya berbuah manis.

Seorang anak yang telah diremehkan orang banyak, telah menjadi laki-laki paling genius di dunia berkat ibu hebat dibelakangnya.

Menjadi ibu seperti apapun adalah pilihan.
Dan pada masa itu, Pauline memilih menjadi ibu yang hebat untuk anaknya.

Semoga kisah ini bisa menjadi insipirasi bagi pembaca baik yang sudah, segera, atau akan menjadi ibu, dan menambah wawasan kita semua agar dapat bersikap lebih baik lagi pada anak-anak kita dimasa yang akan datang.

Sekian tulisan saya kali ini, terimakasih dan semoga bermanfaat~





Komentar

Postingan populer dari blog ini

NEO-HUMANISM PART 3 (Last)

Halo… Setelah beberapa waktu akhirnya saya punya niatan lagi untuk melanjutkan pembahasan tentang neo humanism haha.. Senang sekali ada semangat untuk membahas kelanjutan dari neo-humanism ini, saya harap teman-teman yang membaca blog ini mendapat energi positif dari apa yang saya tulis. Terakhir kali saya membahas tentang sentimen, bukan? Melanjutkan tulisan sebelumnya, saya ingin membahas tentang batasan-batasan didalam sentimen dan konflik yang ditimbulkan. LIMITATION AND CONFLICT Pada tulisan sebelumnya saya sudah membahas tentang bagaimana sentimen itu muncul dan meluas, mulai dari sentimen pada diri sendiri, kemudian meluas pada keluarga, meluas lagi pada lingkungan tempat tinggal, semakin meluas dan meluas sampai akhirnya sentimen tersebut meliputi setiap manusia, yang sering dikenal dengan humanisme. Berikut adalah gambaran proses perluasan sentimen Dalam gambar diatas dijelasakan bahwa sentimen seorang manusia bisa sampai pada tingkat...