Langsung ke konten utama

NEO-HUMANISM PART 2

 


Halo, teman-teman~
Di postingan sebelumnya saya sudah menceritakan tentang bagaimana kesan saya berkenalan dengan Didi Tattva bukan? Nah, kali ini saya ingin menulis tentang apa yang disampaikan oleh Didi Tattva dalam seminar yang berjudul Neo-Humanism, informasi kali ini saya tulis berdasarkan apa yang saya pahami tentang Neo-Humanism ketika mendengarkan seminar Didi Tattva.

Okay, seminar ini dimulai dengan salam “Namaskar” yang artinya “ Saya menghormati kepercayaan/ketuhananmu dengan kesadaran penuh dan sepenuh hati saya”, dari salamnya aja udah adem banget maknanya hehe..
Kemudian, pembahasa pertama adalah

Humanism Vs. Neo-Humanism

Pada bagian ini, dijelaskan perbedaan antara humanisme dan neo-humanisme, kata humanisme sudah pasti sering kita dengar, bukan? Dalam ranah filsafat dan psikologi sudah pasti kenal tentang humanisme.

Umumnya, humanisme dikenal sebagai gagasan yang mengutamakan manusia, manusia berhak mendapatkan hak asasi manusia, dalam filsafat humanisme dikenal sebagai pemikiran yang mengedepankan nilai dan kedudukan manusia serta menjadikannya kriteria dalam segala hal ( menjadikannya orientasi). sedangkan dalam psikologi humanisme disebut sebagai humanistik yang mana berfokus pada keunikan dan aktualisasi diri pada manusia, serta mendukung potensi-potensi yang ada dalam diri manusia. Singkatnya, memanusiakan manusia adalah inti dari aliran humanistik. Kesimpulannya, humanisme merupakan hubungan antara manusia denga manusia lain atau manusia dengan dirinya sendiri.

Sedangkan Neo-Humanisme memiliki konsep yang jauh lebih luas, neo-humanisme memaparkan bagaimana hubungan manusia dengan alam semesta dan isinya, serta hubungan manusia dengan pencipta alam semesta ini.

Contohnya kecilnya, ketika seseorang membersihkan rumah, membersihkan piring dan gelas, menjaga hewan peliharaan atas dasar kesadaran bahwa hal-hal tersebut adalah bagian dari dirinya, hal ini disebut neo-humanisme.

 Contoh besarnya, ketika seseorang menjaga alam, mencintai hewan-hewan, kemudian menghormati setiap manusia baik dari semua golongan, ras, dan agama atas dasar kesadaran bahwa kita semua adalah bagian dari alam semesta sehingga diperlukan untuk saling menjaga dan menghormati, hal juga disebut neo-humanisme.

Lalu, pada pembahasan kedua terdapat Human Society atau disebut juga interaksi manusia/ manusia dalam bermasyarakat. 

Dalam bermasyarkat, manusia sudah pasti menumbuhkan sentimen. Sentimen dikenal sebagai pandangan subjektif atau perasaan terhadap sesuatu, dalam hal ini dimaksudkan pada lingkungan sosial manusia. Dalam berhubungan dengan manusia, individu harus mengenali apakah dia bertindak berdasarkan sentimen ataukah berdasar pada pikiran rasionalnya. 

Contohnya begini, ketika seseorang melihat temannya berkelahi dengan orang lain, kemudian tanpa berfikir dia langsung membela temannya tanpa menganalisis apa yang terjadi, maka inilah yang disebut sentimen. Jika orang tersebut melihat temannya berkelahi dengan orang lain, dan ia memilih untuk melerai dan mengamati situasi, serta mencoba memahami permasalahannya, maka hal ini disebut rasional.

Sentimen adalah ketika anda membela secara membabi buta, mengabaikan benar atau salah, hanya karena dia adalah teman atau kerabat anda. Sedangkan rasional adalah ketika anda mencoba mengamati dan memahami situasi yang kemudian bertindak atas pertimbangan benar-salah dan kemudian berpihak pada yang benar, bahkan jika teman anda berada di pihak yang salah. 

Sentimen sendiri memiliki fungsi pada dua hal yakni, kehidupan individu dan kehidupan kolektif/berkelompok.
Dalam kehidupan individu, ketika anda memiliki sentimen terhadap diri anda maka  anda akan senang untuk mengembangkan diri, membangun diri, dan membuat diri anda menjadi lebih baik.
Sedangkan dalam kehidupan berkelompok, anda akan merasa senang bekerja bersama, memilih untuk hidup bersama, dan umumnya memiliki ikatan keluarga yang kuat. Ketika seseorang hidup berkelompok dan sentimen mereka hanya sebatas pada kelompoknya, kemungkinan besar orang tersebut tidak akan mampu berfikir logis dan rasional. 

Misalnya saja dalam kelompok keluarga besar, ketika salah satu anggota keluarga anda memiliki masalah dengan anggota keluarga lain dan anda secara membabi buta ikut meyerang keluarga lain karena mengganggu anggota keluarga anda, maka ini disebut sentimen. Berbeda lagi jika anda memilih untuk memahami permasalahannya dan mencoba untuk berfikir logis, hal ini disebut rasional. Kasus perilaku berdasarkan sentimen ini seringkali terjadi dalam masyarakat kita, bukan hanya keluarga melainkan komunitas, agama, dan ras.

 Sentimen manusia atau human sentiment ini terbentuk pertama kali didalam diri, sentimen terhadap diri ini disebut juga dengan ego/self. Ketika anda tidak terima disalahkan meskipun anda tau anda salah, dan ketika anda marah ketika seseorang meyinggung anda, hal ini disebut sentimen. 

Ketika anda memiliki sentimen pada diri anda, sentimen itu akan berkembang pada keluarga anda, anda memiliki ikatan yang kuat dengan keluarga anda dan tumbuh perasaan ingin melindungi. 

Setelah itu sentimen akan meluas lagi meliputi teritori atau tempat anda tinggal, kampung halaman anda, kota tempat anda tinggal, atau negara anda. Jika anda mengetahui perang antar negara, kemudian salah satu negara merasa paling superior sehingga menindas negara lain, hal ini juga disebut geo-sentiment, yakni sentiment yang ditujukan pada teritori. 

Kemudian, sentimen ini akan berkembang lebih luas lagi meliputi agama, ras, maupun kelas-kelas dalam masyarakat, kita pasti pernah melihat seseorang suatau kelompok membela agama atau rasnya mati-matian, bahkan sebagian membela secara membabibuta, itulah sentimen.

 Lalu, sentimen bisa berkembang menjadi lebih luas lagi yakni kepada seluruh manusia. Seseorang menjadi sangat peduli dengan manusia lain, tidak peduli berasal dari negara mana, ras dan agamanya apa, orang tersebut akan membela hak-haknya karena adanya sentimen terhadap spesies yang sama yakni, sama-sama manusia. Sekarang, coba ingat-ingat, pernahkan anda mendengar kalimat “untuk apa peduli dengan binatang? Kan dia tidak punya akal seperti manusia”, hal ini juga disebabkan oleh sentimen yang terbatas pada manusia saja. 

Ketika sentimen manusia ini berkembang lebih luas lagi, maka disebut neo-humanisme. Saat anda merasa menyangi barang-barang yang anda miliki, anda peduli dengan binatang yang kelaparan dijalan meskipun binatang tersebut tidak ada hubungannya dengan anda, lalu anda menjaga alam dimanapun anda berada, serta menyayangi setiap makhluk dibumi, dan hal tersebut anda lakukan berdasarkan kesadaran bahwa apa yang ada di dunia beserta isinya adalah bagian dari alam semesta, termasuk juga anda, maka artinya sentimen tidak lagi memiliki batasan, kasih sayang anda sangat besar hingga meliputi seluruh alam beserta isinya.

Tentu saja sentimen ini tidak selamanya buruk, akan tetapi sentimen melahirkan suatu perilaku negatif ketika sentimen tersebut terbatas atau memiliki batasan. Nah, batasan apa saja yang bisa menjadikan sentimen menimbulkan hal negatif??  tunggu di NEO-HUMANISM PART 3 ya, hehehe…

Nah, teman-teman sampai sini sudah ada sedikit gambaran kan tentang Neo-Humanism?? pembahasan selanjutnya akan saya tulis lagi dalam NEO-HUMANISM PART 3, ibarat makan nih ya, kita makan satu sendok dulu, dikunyah pelan-pelan, dinikmati dan dirasakan lezatnya. Jadi inilah tujuan saya membagi pembahasan ini menjadi beberapa part, saya harap teman-teman yang membaca ini bisa santai dan pelan-pelan saja memahaminya.

Sampai ketemu di Neo-Humanism pasrt 3 ^_^

Komentar

  1. Sangat terbuka untuk diskusi di kolom komentar sodara-sodaraaa..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

NEO-HUMANISM PART 3 (Last)

Halo… Setelah beberapa waktu akhirnya saya punya niatan lagi untuk melanjutkan pembahasan tentang neo humanism haha.. Senang sekali ada semangat untuk membahas kelanjutan dari neo-humanism ini, saya harap teman-teman yang membaca blog ini mendapat energi positif dari apa yang saya tulis. Terakhir kali saya membahas tentang sentimen, bukan? Melanjutkan tulisan sebelumnya, saya ingin membahas tentang batasan-batasan didalam sentimen dan konflik yang ditimbulkan. LIMITATION AND CONFLICT Pada tulisan sebelumnya saya sudah membahas tentang bagaimana sentimen itu muncul dan meluas, mulai dari sentimen pada diri sendiri, kemudian meluas pada keluarga, meluas lagi pada lingkungan tempat tinggal, semakin meluas dan meluas sampai akhirnya sentimen tersebut meliputi setiap manusia, yang sering dikenal dengan humanisme. Berikut adalah gambaran proses perluasan sentimen Dalam gambar diatas dijelasakan bahwa sentimen seorang manusia bisa sampai pada tingkat...