Langsung ke konten utama

PENGALAMAN MENGENAL DAN MENGIKUTI KEGIATAN DARI MIRACLE PSYCHOLOGY BERSAMA DIDI TATTVAVEDA DAN DIDI HARI PRIYA (NEO-HUMANISM PART 1)



Halo….
Setelah sekian lama saya bermalas-malasan bikin konten akhirnya hari ini saya kembali dengan sebuah ilmu dan pengalaman yang baru saya dapatkan, yang mana saya harap apa yang saya tulis kali ini akan membawa manfaat bagi pembaca terkasih sekalian hehe.. formal banget ya ^_^

Oiya, sebelum menulis tentang Neo-Humanism saya ingin bercerita terlebih dahulu tentang pengalaman saya bertemu dengan Didi Ananda Tattvaveda selaku pakar Neo-Humanism. Pertama-pertama, saya pengen ngucapin terimakasih banyak ke ibuk Rini, ibu psikolog dari Miracle Psychology yang sudah mengajak dan mengizinkan saya untuk menjemput Didi Tattva dan Didi Hari Priya pada tanggal 23 Februari 2020 bahkan diizinkan juga untuk mengikuti seminar Neo-Humanism ini tanpa membayar, baik banget kan… padahal saya cuma volunteer dan bukan asisten tetap. Sekali lagi terimakasih banyak untuk Bu Rini sudah memberi saya kesempatan untuk mengenal orang baru dan mempelajari ilmu baru, it means a lot to me.

Kemudian, kesan saya tentang Didi Hari Priya, beliau adalah orang yang sangaaaattt ramaahhh…. bener-bener deh, baru ketemu langsung ditawarin buah, kue, bahkan dimasakin. Saya pernah berbuat apa ya sampe dipertemukan sama orang-orang sebaik ini haha.. bersyukur banget. Sedangkan Didi Tattva memberikan kesan yang lebih “kuat” dibanding Didi Hari, bagaimana tidak… saat pertama kali bersalaman Didi Tattva menyuguhkan senyuman paling ramahnya pada saya, dan saat membicarakan pekerjaan, beliau tiba-tiba menjadi sosok tegas, profesional, dan strict. Wow… jantung saya yang soft ini kaget, pake banget. Lol. Tapi seiring berjalannya waktu yang saya habiskan untuk beraktivitas bersama Didi Tattva, saya jadi menemukan sisi lain dari dirinya yang sebenarnya…. KEREN. BANGET!.

Didi Tattva ini bisa saya katakan adalah salah satu orang yang cara penyampaian materinya itu enak didengar dan mudah dipahami, cara beliau menjelaskan pun sangat detail, konkret, dan jelas. Dari cara beliau menyampaikan materinya dan melihat isi slide power pointnya, saya bisa sedikit memahami bahwa beliau adalah orang yang simple, jelas, dan tegas. Beliau ini juga tindak tanduknya maskulin loh… keliahatan kalau beliau adalah orang yang mandiri dan berwibawa, bahkan cara beliau ngelawak aja keren… huhu. Ini aku bukan kaya lagi nulis pengalaman tapi malah kaya lagi fangirling hahaha…

Banyak wawasan yang saya dapatkan secara tidak langsung dari Didi Tattva dan Didi Hari Priya hanya dengan memperhatikan apa yang mereka lakukan selama kami beraktivitas bersama sehingga saya merasa kalau Didi Tattva adalah sosok yang teratur, penuh persiapan, tepat waktu dan tidak ceroboh. Pada tanggal 24 Februari, pukul 7 pagi saya dan teman-teman menjemput Didi Tattva dan Didi Hari untuk mengisi seminar di IAIN salatiga, ketika jarak mobil dan home stay Didi Tattva dan Didi Hari sudah cukup dekat, samar-samar saya bisa melihat Didi Tattva sudah siap dengan pakaian khasnya sambil memangku laptop, entah bagaimana saya berasumsi bahwa beliau mungkin sedang memeriksa ulang isi materi yang akan disampaikannya. Begitu sampai teman-teman saya masuk kedalam rumah, sedangkan saya dan Margaret menunggu didalam mobil. Menurut cerita teman-teman yang masuk ke rumah, mereka langsung diminta untuk sarapan oleh Didi Hari loh, baik banget kan...

Sebelum ke Salatiga, kami mampir dulu di Magelang karena Miracle harus menandatangani MoU dengan lembaga kemasyrakatan disana *kalau ngga salah sih*
Jadi selama proses MoU itu teman-teman asisten ikut menemani Ibu Rini, sedangkan saya dan Margaret menemani para Didi untuk belanja dan jalan-jalan sambil menunggu Ibu Rini menyelesaikan pekerjaannya. Secara alami saya ngikutin Didi Tattva sedangkan margaret bersama Didi Hari, tidak banyak yang kami obrolkan saat itu, saya hanya memperhatikan bagaimana Didi Tattva sangat teliti dalam memperhatikan makanan yang dipilih, sampai-sampai komposisinya juga dibaca dengan detail, mungkin karena beliau adalah vegan, jadi bisa dipahami jika beliau sangat teliti dengan makanan atau minumannya.

Saya rasa Didi Tattva juga merupakan seseorang yang jujur, jika beliau suka maka akan memuji, jika tidak suka akan ditunjukkan dalam bentuk ucapan ataupun perilaku. Saya pikir Didi bukanlah seperti orang kebanyakan yang akan selalu bilang "it's okay" padahal sebenarnya dia merasa terganggu atau marah. Bagaimanapun, saya baru beraktivitas bersama beliau hanya tiga hari saja, itupun tidak sampai 24 jam. Tapi saya bersyukur karena menyadari hal-hal baik dari beliau, sehingga saya bisa mengingat beliau sebagai guru yang saya hormati.


Sayangnya, para Didi ini sepertinya juga lebih suka diam jika saya tidak bertanya, sedangkan saya selalu menunggu untuk diberi petuah, agak menyesal juga sih.. huhu.. tapi gapapa, karena saya punya kontak Didi Hari dan juga diizinkan untuk memfollow instagram Didi Tattva, jadi saya bisa membaca postingan-postingan berfaedah beliau. Sehari sebelum para Didi pulang, saya lumayan sedih karena rasanya pengen mengobrol lebih banyak, pengen mendengarkan petuah mereka lebih banyak. Tapi kesedihan saya terobati ketika Didi Hari mengucapkan salam perpisahan dengan ramah kepada saya dan teman-teman, dan saya juga sempat mendapat nasehat dari Didi Tattva, juga mendapat dukungan untuk cita-cita saya yang pegen kuliah di UK. Ya ampun saya seneng banget waktu ituuu…. T.T

Sekian cerita pengalaman saya, Terimakasih pada Ibu Rini, Didi Hari Priya, dan Didi Tattva untuk pengalaman yang mengesankan ini. Saya harap kita semua berumur panjang dan bisa bertemu lagi dilain kesempatan.

Namaskar.

           Didi Tattva berada di tengah, disebelah kanan beliau adalah Didi Hari Priya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NEO-HUMANISM PART 3 (Last)

Halo… Setelah beberapa waktu akhirnya saya punya niatan lagi untuk melanjutkan pembahasan tentang neo humanism haha.. Senang sekali ada semangat untuk membahas kelanjutan dari neo-humanism ini, saya harap teman-teman yang membaca blog ini mendapat energi positif dari apa yang saya tulis. Terakhir kali saya membahas tentang sentimen, bukan? Melanjutkan tulisan sebelumnya, saya ingin membahas tentang batasan-batasan didalam sentimen dan konflik yang ditimbulkan. LIMITATION AND CONFLICT Pada tulisan sebelumnya saya sudah membahas tentang bagaimana sentimen itu muncul dan meluas, mulai dari sentimen pada diri sendiri, kemudian meluas pada keluarga, meluas lagi pada lingkungan tempat tinggal, semakin meluas dan meluas sampai akhirnya sentimen tersebut meliputi setiap manusia, yang sering dikenal dengan humanisme. Berikut adalah gambaran proses perluasan sentimen Dalam gambar diatas dijelasakan bahwa sentimen seorang manusia bisa sampai pada tingkat...